64 Tahun RRI,,.Mengudara Untuk Semua…
(Refleksi Hari Radio Ke 64 Tanggal 11 September 2009)
Sempat seperti anak ayam kehilangan induknya karena likuidasi Departemen Penerangan pada masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid tahun 2000 tidak membuat api Try Prasetya RRI padam. Malah ini dijadikan sebagai tonggak untuk melakukan sebuah perubahan dari Government Owned Radio ke arah Public Service Boradcasting dengan didasari Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2000 yang ditandatangani Presiden RI tanggal 7 Juni 2000. Tidak hanya itu, perubahan status RRI dari Perusahaan Jawatan (Perjan=badan usaha milik Negara yang mencari untung) menjadi Lembaga Penyiaran Publik (LPP) sejak 2002 sampai sekarang berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 11 dan 12 tahun 2005 yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Undang Undang Nomor 32/2002 turut memacu motivasi Angkasawan dan Angkasawati RRI untuk terus hadir sebagai radio yang benar-benar milik semua lapisan masyarakat dan melayani kepentingan semua orang. Tentunya ini didasari oleh Pasal 14 Undang Undang Nomer 32/2002 menegaskan bahwa RRI adalah Lembaga Penyiaran Publik yang bersifat independen, netral, tidak komersil dan berfungsi melayani kebutuhan masyarakat.
Menjelang ulang tahunnya yang ke 64 tahun 2009, RRI kini telah memiliki 68 stasiun di seluruh provinsi di Indonesia. Sebuah data statitik yang tentunya akan membuat bangga para pendiri RRI Dulunya. Betapa tidak, pada awal kemerdekaan, RRI mulanya hanyalah menggunakan peralatan Radio bekas Jepang. Lalu 6 orang yang mengoperasikan radio-radio bekas Jepang itu mengadakan pertemuan di rumah Adang Kadarusman Jalan Menteng Dalam Jakarta menghasilkan keputusan mendirikan Radio Republik Indonesia dengan memilih Dokter Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI yang pertama. Rapat tersebut juga menghasilkan suatu deklarasi yang terkenal dengan sebutan Piagam 11 September 1945, yang berisi 3 butir komitmen tugas dan fungsi RRI yang kemudian dikenal dengan Tri Prasetya RRI. Butir Tri Prasetya yang ketiga merefleksikan komitmen RRI untuk bersikap netral tidak memihak kepada salah satu aliran / keyakinan partai atau golongan.
Usia 64 tahun tentunya adalah umur yang sudah cukup tua. Umur dimana seseorang seharusnya sudah mencapai klimaks dari prestasi hidup. Bagaimana dengan RRI. Kalau pertanyaan ini kita lemparkan kepada public tentu akan beragam tanggapan yang akan muncul. Dari beberapa dialog interaktif dengan pendengar yang selalu digelar RRI menjelang hari Ulang Tahunnya dan acara Jembatan Hati Pro2 yang mengudara sekali sebulan di Pro2 RRI Padang setiap malam minggu pukul 20:00-21:00 terungkaplah beberapa pandangan masyarakat terhadap RRI. Diantaranya adalah;
1. Sesuai dengan fungsinya sebagai penyampai berita/informasi beberapa masyarakat menilai berita RRI masih belum bisa keluar dari kungkungan “corong pemerintah”. RRI masih “senang” dengan berita-berita kunjungan pejabat, acara-acara seremonial dan sejenisnya. Kalau kita intip ke dapur pemberitaan RRI memang kesan itu sedikit tergambar dengan plotting reporter RRI yang banyak disebar di kantor-kantor pemerintah dan sejenisnya. Masih kurang “reporter mobile” yang bertugas untuk melaporkan setiap pergerakan informasi di masyarakat. Tentu juga tidak berarti berita RRI tidak ada yang mengupdate kegiatan masyarakat. Mungkin intensitas dan kualitasnya yang perlu ditingkatkan.
2. Salah satu fungsi RRI yang tidak boleh dilupakan oleh semua angkasawan dan angkasawati RRI adalah bahwa RRI adalah radio yang melayani semua lapisan masyarakat termasuk di dalamnya adalah “etnic minority”. Bisa dikatakan sangat sedikit porsi siaran yang melayani kepentingan mereka. Kecuali pada event-event RRI yang kadang kurang kontiniu.
3. Sebagai Radio milik Pemerintah yang dibiayai sepenuhnya dengan APBN, Sarana dan Prasarana serta Peralatan Siaran Nomor satu untuk takaran Radio secara umum di negeri ini, seharusnya siaran RRI dapat menjangkau hampir semua daerah kerjanya dengan kualitas yang baik. Namun, masih banyak pendengar yang mengeluh dengan kualitas siaran RRI yang masih kalah dengan siaran radio-radio swasta. Baik dalam jangkauan maupun kejernihan. Tentu ini harus menjadi perhatian bagian teknik RRI, bagaimana menjadikan siaran RRI enak dan nyaman di dengar. Karena bagaimanapun bagusnya sebuahprogram acara jika tidak didukung oleh kualitas siaran akan berkurang nilainya dalam pandangan masyarakat.
4. Sisi lain yang cukup menjadi sorotan pendengar adalah materi acara yang ada di RRI. Secara umum sudah bagus dengan komposisi yang merata baik dalam aspek pendidikan, budaya, berita, olahraga, agama, hiburan dan lain-lain. Namun, ada beberapa acara sepertinya perlu dikaji ulang. Ditingkatkan kualitasnya dan ada reformasi serta optimalisasi acara tersebut. Sedikit janggal rasanya jika ada sebuah program yang diputar ulang, hilang-hilang timbul, kualitas rekaman tidak standar broadcasting dan lainnya. Dirasa perlu ada suntikan nafas dan motivasi untuk memformat ulang acara, melakukan evaluasi kapan perlu menciptakan acara-acara baru yang selaras dengan kebutuhan pendengar.
Terlepas dari itu semua, RRI Padang juga telah mampu menunjukkan eksistensinya di tengah masyarakat. RRI Padang melalui 3 programa yang selalu mengudara setiap hari (Pro 1, Pro 2 dan Pro 3) telah mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat. Setidaknya ini terlihat dari respon pendengar terhadap acara-acara yang diudarakan RRI yang selalu mendapatkan respon dari pendengar. Sebagai contoh Pro2 FM. Programa yang mengudara melalui Frekuensi 90,8 Mhz ini mampu merebut hati remaja kota padang bahkan pendengar dari beberapa kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Seperti Kabupaten dan Kota Pariaman, Solok, Agam dan sekitarnya. Program-Program seperti Band On Air, Riquest On Air, Indie By Riquest, Bimbel Udara, Ranah Tacinto adalah beberapa contoh acara yang ramai pendengarnya. Demikian juga dengan Programa 1 yang mengudara melalui frekuensi 97,5 Mhz dan Am 254 meter juga mampu menarik minat pendengar untuk memonitor acara-acaranya sepanjang hari. Acara Subuh Mubaraqoh yang dicetuskan oleh Kepala LPP RRI Padang Drs. Sudiman Bonavarte, MM mulai bulan Agustus 2009 ternyata mendapat sambutan luar biasa dari pendengar dari seluruh sumatera barat bahkan beberapa daerah tetangga dan kepulauan Mentawai. Acara ini juga merupakan bentuk respon RRI terhadap program Pemerintah Kota Padang yang sedang digencarkan Oleh Walikota Padang Bapak Drs. H. Fauzi Bahar, M. Si.
Tidak hanya itu, RRI Padang juga menjadi sumber informasi pertama dan utama bagi masyarakat dalam berbagai hal terutama dalam kondisi darurat seperti Bencana Gempa Bumi yang sering terjadi di Kota Padang dan Sumatera Barat. Hampir setiap kali terjadi Gempa Bumi dengan kekuatan sedang ataupun besar, Walikota/Wakil Walikota Padang, hadir di udara melalui RRI Padang guna menyampaikan informasi seputar gempa, memberikan pengarahan dan instruksi serta menenangkan warga kota yang dihantui gempa dan tsunami. Penulis sendiri mempunyai pengalaman yang begitu berbekas ketika mendampingi Walikota Padang mengudara ketika terjadi Gempa tahun 2007. Walaupun gempa masih terus terjadi tetapi Walikota Padang tetap bertahan di Studio, melayani masyarakat. Penulis sendiri sempat bertanya kepada Pak Wali..apakah kita terus bertahan Pak?. Dengan Mantap Beliau Menjawab:”Insya Allah,,,tidak apa-apa”.
Peran RRI tidak sebatas itu saja, kegesitan reporter RRI mencari berita dan mengudarakannya secepat mungkin dari lapangan perlu diberikan acungan jempol. Suasana dan perkembangan setelah bahkan ketika bencana terjadi dapat segera diketahui pendengar RRI melalui Laporan Langsung Reporter RRI dari tempat kejadian. Galodo di Tanah Datar, Banjir dan Gempa di Kota Padang, Bahkan yang terbaru adalah bencana banjir bandang di Kabupaten Agam yang diekspos langsung oleh RRI Padang melalui siaran berjaringan Nasional. Sehingga perkembangan dari suatu bencana/kegiatan dapat diketahui oleh seluruh pendengar di Indonesia.
Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah kini siaran RRI Padang sudah bisa diakses melalui audio streaming di www.rripadang.net sejak awal 2009. Tidak hanya orang Indonesia yang bisa mendengar siaran RRI Padang tapi di seluruh dunia. Sehingga tidak mengherankan jika pembaca mendengar sebuah acara RRI Padang lalu ada kiriman salam dan lagu untuk warga kota padang dari Papua, Medan, Pontianak bahkan Jepang, Malaysia, Mesir dan lainnya. Ini bisa dibuktikan pada acara Terminal Hati, Band On Air di Pro 2 FM RRI Padang yang mengudara setiap malam minggu. Bahkan Kepala LPP RRI Padang juga menegaskan tekadnya untuk menjadikan hari Radio ke 64 sebagai tonggak lahirnya siaran RRI dalam format “three in One”. Audio, Vidio dan Teks.
Kini di usianya yang ke 64 tahun dan di tengah persaingan di era global, RRI betul-betul dituntut untuk mampu berkiprah lebih optimal dan lebih vital sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Penyiaran dan tugas yang diembankan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 11 dan 12 tahun 2005 yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Undang Undang Nomer 32/2002.Selamat Ulang Tahun RRI. Semoga Terus Mengudara Untuk Semua, Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar